Asal-Usul Nama Nusantara dan Artinya


Dahulu, Indonesia dikenal dengan nama Nusantara, hingga sampai sekarang kata Nusantara tetap digunakan untuk menyebut wilayah Tanah Air dari Sabang sampai Merauke. Sebenarnya bukan hanya Indonesia, bahkan mencakup hingga wilayah Malaysia dan sekitarnya.

Kata Nusantara sudah ada jauh sebelum datangnya penjelajah asal Belanda, yang dalam ekspedisi tersebut dipimpin oleh Cornelis De Houtman (pada tahun 1596), ia merupakan orang yang menemukan jalur pelayaran dari Eropa ke Indonesia dan berhasil memulai perdagangan rempah-rempah bagi belanda. Keberhasilannya ini, yang membuka jalan bagi ekspedisi-ekspedisi selanjutnya yang berujung pada praktik kolonialisme di Nusantara.

Asal-Usul Nama Nusantara dan Artinya

Wilayah Nusantara memiliki banyak sebutan nama oleh bangsa asing. Seperti dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan Nusantara disebut dengan Nan-Hai (Kepulauan Laut Selatan). Juga dalam catatan kuno bangsa India, menamai Nusantara dengan sebutan Dwipantara (Kepulauan Tanah Sebrang). Bangsa Arab menyebutnya dengan nama Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa)

Kata Nusantara sendiri berasal dari bahasa Sansakerta (Sanskrit) yang merupakan gabungan dari kata ‘nusa’ dan ‘antara’ Nusa artinya Pulau, dan Antara artinya Luar.

Awal diketahuinya nama Nusantara itu sendiri, Sejak tahun 1300an. Lebih tepatnya dalam Sumpah Palapa (Sumpah Palapa; yang ditemukan pada teks Jawa pertengahan paraton) yang dikemukakan oleh Gajah Mada pada upacara pengangkatannya sebagai Patih Amangkubhumi Majapahit, yang isinya, sebagai berikut:

“Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Butuni, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa".”

Artinya: “Dia Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, "Jika telah menundukkan seluruh Nusantara dibawah kekuasaan Majapahit, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Butuni, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".”

Gurun : Pulau Gorom, Seram Bagian Timur (Pulau Seram, Maluku)
Seran : Seram (Pulau Seram, Maluku)
Tañjung Pura : Kerajaan Tanjungpura, Ketapang, Medan (Sumatra Timur)
Haru : Kerajaan Aru Sumatra Utara (Karo)
Butuni : Kesultanan Buton (Sulawesi Tenggara)
Pahang : Pahang, Malaysia
Dompo : Dompu sebuah daerah di pulau Sumbawa
Bali : Bali
Sunda : Kerajaan Sunda
Palembang : Palembang atau Sriwijaya
Tumasik : Singapura

Yang mana pada saat itu Kerajaan Majapahit sedang berada dalam puncak kejayaannya, dibawah Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Yang katanya wilayah kekuasaannya hingga Selatan Filipina, namun hal ini masih diperdebatkan. Majapahit juga merupakan Kerajaan Hindu-Budha terbesar dan Terakhir yang pernah ada di Indonesia.

Dapat dikatakan penamaan Nusantara ini adalah berdasarkan sudut pandang Majapahit (Jawa), mengingat pada waktu itu belum ada sebutan yang pasti untuk menyebut seluruh kepulauan yang sekarang bernama Indonesia dan juga Malaysia. Sebutan Nusantara pernah coba dihidupkan oleh Ki Hajar Dewantara untuk menggantikan sebutan Hindia Belanda (Nederlandsch-Indie).
Terbaru Lebih lama

Related Posts